| Serba-Serbi LASIK |
|
| Oleh Lala, Total Hits: 470 | |||||||
|
LASIK, singkatan dari Laser In-Situ Keratomileusis merupakan salah satu dari Bedah Refraktif mata yang mampu memperbaiki tajam penglihatan melalui prosedur yang secara permanen mengubah bentuk kornea (selaput bening yang meliputi mata bagian depan) menggunakan laser dingin sehingga dapat bebas dari kacamata atau lensa kontak.
Dengan teknologi LASIK ini maka gangguan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatism (silinder) dapat dikoreksi. Di Indonesia, LASIK baru mulai dikenal sejak tahun 1993, di mana awalnya masih menggunakan pisau bedah untuk membuat flap kornea. Biaya LASIK di Indonesia berkisar antara 8-21 juta untuk 1 mata.
SKRINING Skrining dilakukan oleh dokter melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk menentukan apakah pasien tersebut memenuhi persyaratan untuk kandidat LASIK atau tidak. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan, luas lapang pandang, pemeriksaan menyeluruh semua bagian bola mata, pengukuran ukuran pupil, serta tekanan bola mata. Apabila pada pemeriksaan ini pasien memenuhi semua persyaratan, maka dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan ketebalan dan kelengkungan kornea dengan alat Corneal Topography, serta Wavefront Analyzer untuk mengukur ketidakteraturan cahaya (abrasi) yang masuk melalui kornea mata.
KANDIDAT LASIK Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi apabila akan menjalankan operasi LASIK ini diantaranya adalah : Usia 21 tahun atau 18 tahun keatas apabila refraksi mata atau ukuran kacamata sudah stabil selama 1 tahun
Pupil yang besar. Kondisi pupil yang besar dapat mengakibatkan gambaran halo, percikan api atau bintang, dan pandangan ganda setelah operasi
Sebagian besar pasien merasa excited menantikan hasil operasi yang sudah mereka jalani. Namun seperti layaknya semua tindakan medis yang dijalankan, selalu ada risiko yang terkandung di dalamnya. Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, karena itu sangat penting untuk dipahami mengenai risiko dan komplikasi yang dapat terjadi selama tahapan Bedah Refraktif ini. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi diantaranya adalah:
Sindroma mata kering yang parah. Sebgai komplikasi dari operasi, mata seorang pasien dapat tidak memproduksi atau sangat berkurang produksi air matanya untuk menjaga mata tetap nyaman dan lembab. Hal ini dapat menyebabkan penurunan daya pandang, kabur, dan gejala lain
PROSEDUR Satu hari sebelum operasi, sebaiknya anda tidak memakai make-up, krim, parfum, dan lotion. Perawatan bulu mata dengan mencucinya sebersih mungkin selama beberapa waktu sebelum operasi difungsikan untuk menghindari kotoran pada bulu mata sehingga mengurangi risiko infeksi.
![]() Setelah operasi, mata akan mengalami perasaan terbakar, gatal, dan berair. Selain itu mungkin dapat terjadi pandangan kabur, sensitif teradap cahaya, glare, dan fluktuasi dalam penglihatan. Anda dapat diberikan obat untuk meredakan rasa sakit atau tetes mata untuk membuat mata merasa nyaman. Gejala-gejala ini akan membaik dalam waktu beberapa hari setelah operasi. Dokter akan meminta untuk tidak menggosok mata, tidak membasuh muka dan mengenakan make-up, serta mengenakan pelindung mata di kala malam dan kacamata di luar rumah sampai mata menyembuh sempurna.
Olahraga dengan risiko trauma pada mata seperti tinju, karate, sepak bola, sebaiknya tidak dilakukan selama 4 minggu setelah operasi. Sangat penting untuk melindungi mata dari trauma. Membutuhkan waktu sekitar 3 – 6 bulan agar penglihatan menjadi stabil. Apabila anda mengalami gejala yang mengganggu atau bertambah parah setelah operasi, segeralah hubungi dokter anda. Gejala tersebut mungkin merupakan pertanda adanya masalah atau komplikasi yang dapat mengakibatkan kehilangan daya pandang.
Sumber : klikdokter.com
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||